DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BANJAR
PERMAINAN ULAR TANGGA NOTICE/CAUTION/WARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA MATA PELAJARAN BAHASA
INGGRIS
Maya Marlina Febriyanthi, M.Pd
SMP Negeri 1 Martapura
mayafathurrahman@gmail.com
Abstrak
Hasil ulangan harian semester
ganjil Kelas
VII C tentang Notice/Caution/Warning menunjukkan sebagian
peserta didik mendapatkan nilai kurang dari KKM, yaitu 75. Kondisi ini menjadi
dasar bagi peneliti untuk berupaya meningkatkan proses dan hasil belajar bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan aktivitas guru, aktivitas peserta didik, dan hasil belajar
peserta didik dalam pelajaran Bahasa Inggris menggunakan teknik permainan Ular Tangga Notice/Caution/Warning. Subyek penelitian adalah 30
peserta didik kelas VII C pada SMP Negeri 1 Martapura semester 2 tahun pelajaran 2013/2014. Metode yang digunakan
adalah kaji tindak latar kelas yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart
(1993) yaitu Plan, Act, Observe, dan Reflect. Dari hasil pengamatan peneliti
dan kolaborator melalui paparan data, terjadi peningkatan aktivitas guru ketika
menerapkan teknik permainan Ular
Tangga Notice/Caution/Warning yaitu dari 91,75 % menjadi 98,33
% atau rerata sebesar 95,04 %dari keseluruhan aspek yang diamati. Aktivitas peserta didik di dalam
kelompok semakin aktif dan dapat mengatasi masalah ketidakpahaman terhadap
materi pembelajaran dengan perolehan 95,50 % menjadi 99,11% dengan rerata 97,30 %. Tingkat ketercapaian
hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dengan perolehan dari 43,33%
pada siklus 1 menjadi 80%
pada siklus 2, dengan rerata persen adalah 61,67%.
Kata kunci: permainan, ular tangga, notice/caution/warning
Berdasarkan Struktur Kurikulum 2013 untuk SMP, mata pelajaran Bahasa Inggris adalah mata
pelajaran yang termasuk dalam Kelompok A yang wajib diajarkan dengan beban
mengajar 4 jam per minggu. Pembelajaran Bahasa Inggris di SMP meliputi
pembelajaran teks monolog atau genres (descriptive, report, procedure, narrative, dan recount) dan teks
fungsional pendek baik secara lisan maupun tertulis.
Banyak
sekali ragam teks fungsional pendek yaitu pengumuman, undangan, iklan, bahkan
rambu-rambu atau simbol yang mengandung aturan-aturan. Saat ini banyak kita temui aturan-aturan yang ada di sekitar
kita seperti Notice, Caution, dan Warning dalam bahasa Inggris.
Notice adalah tulisan atau tanda yang berisi
informasi, instruksi atau peringatan kepada publik. Caution adalah peringatan atau semacam nasihat tentang bahaya atau
risiko yang mungkin terjadi. Caution dapat ditemukan pada manual, peralatan elektronik, atau di jalan. Warning
adalah pemberitahuan, ancaman atau
tanda terhadap bahaya atau kejahatan. Warning dapat
ditemukan pada rambu-rambu lalu lintas,
peringatan di rumah sakit dan layanan umum lainnya. Juga pada microwave, lemari es, komputer, dan
lain-lainnya.
Pembelajaran bahasa Inggris di
SMP/MTs ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional
yakni berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah
sehari-hari. Bahasa Inggris merupakan
mata pelajaran yang di-UN-kan, sehingga diharapkan hasil belajar bahasa Inggris
peserta didik dapat menunjang persiapan menghadapi Ujian Nasional.
Bahasa Inggris merupakan alat
untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan
mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan budaya. Keterampilan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh
adalah keterampilan berwacana, yakni keterampilan memahami dan/atau menghasilkan
teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan
berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
Membaca adalah salah satu
kompetensi komunikatif yang harus dikuasai oleh peserta didik SMP/MTs. Sebagai
satu dari keterampilan berbahasa yang seharusnya dikembangkan dalam kegiatan
pembelajaran, Membaca dianggap sebagai keterampilan berbahasa yang sulit bagi
peserta didik.
Belajar dapat diartikan sebagai
upaya perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antar
individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan
lingkungannya. Sesuatu yang dimaksud adalah objek atau materi atau informasi
yang dipelajari.
Belajar merupakan proses mental
dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan. Belajar berarti mengalami,
baik mengalami secara langsung maupun tidak langsung (melalui media). Dengan
kata lain, belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan (lingkungan
fisik dan lingkungan sosial). Agar belajar terjadi secara efektif, yang perlu
diperhatikan adalah motivasi (Alim, 2009).
Motivasi adalah dorongan untuk
melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik dinilai lebih baik, karena berkaitan langsung dengan tujuan
pembelajaran itu sendiri. Belajar itu sendiri adalah aktivitas. Bila pikiran
dan perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran, pada
hakikatnya siswa tersebut tidak belajar.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh
guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan
pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa memahami belajar dengan
diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.
Media adalah perantara
atau pengantar pesan atau pengantar dari pengirim ke penerima pesan. Media
merupakan bentuk jamak dari medium yang berasal dari bahasa Latin (Depdiknas,
2005, p.12).
Menurut Sadiman dalam Depdiknas (2005, p.13), media adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim ke penerima
sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat peserta didik. Media
pembelajaran dapat diartikan sebagai alat, sarana komunikasi antara dua pihak
(orang, kelompok, dan lain-lain) yang digunakan dalam proses pengajaran.
Media pembelajaran dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu media yang nyata dan media buatan. Media nyata adalah semua jenis benda atau objek nyata (tidak secara khusus dirancang untuk melayani sebagai media) digunakan sebagai sarana belajar atau sumber belajar dalam upaya untuk merampingkan proses belajar. Sebaliknya, media buatan atau benda yang secara khusus dirancang dan dibangun berfungsi sebagai alat belajar atau sebagai sumber belajar dalam upaya untuk mengefektifkan proses belajar.
Media pembelajaran dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu media yang nyata dan media buatan. Media nyata adalah semua jenis benda atau objek nyata (tidak secara khusus dirancang untuk melayani sebagai media) digunakan sebagai sarana belajar atau sumber belajar dalam upaya untuk merampingkan proses belajar. Sebaliknya, media buatan atau benda yang secara khusus dirancang dan dibangun berfungsi sebagai alat belajar atau sebagai sumber belajar dalam upaya untuk mengefektifkan proses belajar.
Berdasarkan
bentuknya, media dapat dibedakan atas media audiotif, media visual, dan media
audio-visual. Media Audiotif adalah sumber belajar atau alat bantu seperti
suara, hanya melalui indera pendengaran. Media visual adalah sumber belajar
atau alat bantu dalam bentuk benda atau objek yang dapat dilihat melalui indera
penglihatan. Media audio-visual adalah semua jenis alat atau sumber belajar
lain seperti suara dan benda yang dapat dilihat, yaitu melalui indera
pendengaran dan penglihatan.
Menurut
Sukartiwi dalam
Depdiknas
(2005, p.13),
ada beberapa keuntungan
yang dapat dicapai dengan menggunakan media, yaitu: (1) meningkatkan
motivasi peserta didik. (2) mencegah kebosanan peserta didik mengikuti proses belajar. (3) membuat
proses pembelajaran berjalan lebih sistematis. (4) mudah bagi peserta didik
untuk memahami instruksi guru dalam proses pembelajaran. (5) memperkuat
pemahaman peserta didik dalam konteks pembelajaran yang diharapkan. Dengan
demikian penggunaan media pembelajaran sangat diperlukan karena bermanfaat
digunakan dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah.
Notice/Caution/Warning adalah salah satu jenis teks
fungsional pendek yang diajarkan di sekolah. Terlebih lagi, teks fungsional
jenis ini juga termasuk dalam materi Ujian Nasional. Pemahaman terhadap Notice/Caution/Warning dapat
diantisipasi dengan memberikan pengalaman bagi para peserta didik dalam sebuah
permainan.
Ular
Tangga adalah permainan tradisional dimainkan oleh anak-anak. Wikipedia menjelaskan bahwa Snake Ladder
(Ular Tangga) adalah permainan papan untuk anak-anak yang dimainkan oleh 2 orang atau
lebih. Papan permainan dibagi dalam kotak-kotak kecil dan di beberapa kotak
digambar sejumlah tangga" atau "ular" yang menghubungkannya
dengan kotak lain. Permainan ini diciptakan pada tahun 1870. Tidak
ada papan permainan standar dalam ular tangga. Setiap orang dapat menciptakan
papan mereka sendiri dengan jumlah kotak, ular dan tangga yang berlainan.
Setiap pemain mulai dengan bidaknya di kotak pertama (biasanya kotak di sudut
kiri bawah) dan secara bergiliran melemparkan dadu. Bidak
dijalankan sesuai dengan jumlah mata dadu yang muncul. Bila pemain mendarat di
ujung bawah sebuah tangga, mereka dapat langsung pergi ke ujung tangga yang
lain. Bila mendarat di kotak dengan ular, mereka harus turun ke kotak di ujung
bawah ular. Pemenang adalah pemain pertama yang mencapai kotak terakhir.
Biasanya bila seorang pemain mendapatkan angka 6 dari dadu, mereka mendapat
giliran sekali lagi. Bila tidak, maka giliran jatuh ke pemain selanjutnya.
(Wikipedia, 2014)
Sejarah Ular
Tangga diciptakan pada abad ke-2 sebelum
masehi dengan nama “Paramapada Sopanam (Ladder to Salvation). Dikembangkan
oleh Pemuka agama Hindu untuk mengajarkan anak-anak mengenai “penghargaan”.
Ular merepresentasikan “keputusan yang buruk dan jahat”, sedangkan tangga melambangkan
“keputusan yang bermoral dan baik”. Permainan ini masuk ke Inggris pada tahun
1892, dan pada tahun 1943 namanya diubah menjadi “Chutes and Ladders”
oleh Milton Bradley di Amerika untuk dikomersialkan. (http://id.wikipedia.org/ wiki/Ular_tangga)
Ular Tangga menjadi
bagian dari permainan tradisional di Indonesia meskipun tidak ada data yang
lengkap mengenai kapan munculnya permainan tersebut. Pada zaman dahulu, karena banyaknya anak
Indonesia yang bermain ular tangga membuat permainan ini menjadi sangat populer
di masyarakat. Ular tangga pada umumnya terdiri atas satu petak permainan yang
berisi kotak-kotak yang harus dilewati
oleh para pemain dengan menggerakan bidak setelah sebelumnya memutar dadu
terlebih dahulu. Permainan ini masuk
kedalam kategori “board games” seiring dengan munculnya monopoli, halma, ludo dan sebagainya.
Ular Tangga Notice/Caution/Warning
berasal dari Ular Tangga yang di dalamnya berisi Pemberitahuan / Perhatian / Peringatan, kemudian ditambah dengan
gambar ular yang menunjukkan aturan pemain harus turun, dan gambar tangga yang
mengharuskan pemain untuk naik. Permainan ini memiliki manfaat agar peserta
didik belajar untuk bekerja sama dan menunggu giliran, serta belajar untuk
memecahkan masalah.
Aturan permainan dalam Ular Tangga Notice/Caution/ Warning
yaitu:
1. Peserta didik
diminta untuk membuat kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Tiap kelompok
mengelilingi 1 lembar permainan Ular Tangga.
2. Tentukan urutan
pemain pertama, kedua, atau pemain ketiga dengan melakukan
"Hompimpa".
3. Setelah ditentukan,
pemain pertama melempar dadu untuk menentukan banyaknya langkah berdasarkan angka
dadu
yang muncul.
4. Pemain yang lain
menanyakan kepada pemain pertama arti dari tulisan Notice/ Caution/Warning tempat di mana posisi pemain pertama berada
dan juga ditanyakan di mana biasanya Notice/Caution/Warning
dijumpai.
5. Jika pemain pertama
tidak bisa menjawab, maka dia harus menulis kesulitannya di buku catatan dan
dianggap sebagai kosakata baru baginya yang akan didiskusikan dan ditanyakan
setelah usai permainan.
6. Setelah pemain
pertama telah menjalankan gilirannya, maka dilanjutkan dengan pemain kedua
untuk melakukan hal yang sama dan dilanjutkan oleh pemain berikutnya.
7. Langkah pemain bisa
menjadi cepat karena berada di posisi anak tangga, namun bisa juga menjadi
lambat karena berada di posisi gambar ekor ular yang mengharuskan dia turun.
8. Permainan selesai
jika salah seorang pemain telah berada di angka terkhir (finish).
9. Inti dari permainan
ini bukan mencari siapa yang kalah dan menang, melainkan memahami dan menambah
kosakata yang berkaitan dengan Notice/Caution/Warning yang terdapat
pada gambar Notice/Caution/ Warning Snake Ladder yang tersedia.
10. Seusai permainan, para peserta didik dalam
satu kelompok mendiskusikan kosakata yang berkaitan dengan Notice/Caution/ Warning yang telah mereka dapatkan.
Dalam
silabus Kurikulum
2013 mata pelajaran Bahasa Inggris jenjang
SMP, Teks Fungsional
Pendek Notice/Caution/Warning diajarkan di Kelas VII semester 1 dan 2 dan Kelas IX semester 1. Selain itu, Notice/Caution/Warning juga termasuk
salah satu dari Teks Fungsional
Pendek yang diujikan dalam Ujian Nasional. Dalam kenyataannya, peserta didik
sering mengalami kesulitan dalam memahami teks fungsional pendek tersebut. Dari hasil assessment harian semester ganjil tahun
pelajaran 2013/2014 yang berkaitan dengan teks
tersebut, ditemukan bahwa sebagian besar peserta didik Kelas VII C (16 dari 30
orang) memperoleh nilai di bawah KKM (75).
Kemungkinan penyebab
dari ketidak-berhasilan tersebut, diantaranya waktu pembelajaran yang terbatas dan
banyaknya notice/ caution/warning
yang harus dipahami, dan kesulitan kosakata yang ditemui peserta didik.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan
kemampuan membaca mata pelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan permainan Ular Tangga Notice/Caution/Warning pada peserta
didik Kelas VII C SMP Negeri 1 Martapura Tahun Pelajaran 2013/2014.
Secara umum masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah
dengan menggunakan permainan ular tangga notice/caution/warning kemampuan membaca mata pelajaran Bahasa Inggris bagi peserta didik
Kelas VII C SMP Negeri 1 Martapura dapat meningkat?”
Secara khusus, masalah dalam penelitian ini dijabarkan sebagai
berikut: (1) Bagaimana aktivitas guru dengan menggunakan permainan ular tangga notice/caution/warning dalam proses belajar Bahasa Inggris bagi
peserta didik Kelas VII C SMP Negeri 1 Martapura? (2) Bagaimana permainan ular tangga notice/caution/warning dapat meningkatkan
aktivitas peserta didik dalam proses belajar
bahasa Inggris bagi peserta didik Kelas
VII C SMP Negeri 1 Martapura? (3) Apakah dengan menggunakan
permainan ular tangga notice/caution/warning hasil belajar peserta didik dalam proses belajar bahasa Inggris bagi peserta didik Kelas VII C SMP Negeri 1 Martapura dapat meningkat?
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) aktivitas guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan permainan ular tangga notice/caution/warning. (2) aktivitas peserta didik selama kegiatan belajar mengajar
berlangsung pada mata pelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan permainan ular tangga notice/caution/warning. (3) hasil belajar yang diperoleh selama kegiatan belajar mengajar berlangsung pada mata pelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan permainan ular tangga notice/caution/warning.
Manfaat penelitian ini adalah untuk: (1) Mendapatkan teori baru
tentang kemampuan membaca Notice/Caution/Warning bahasa Inggris yang
dapat ditingkatkan melalui permainan Ular
Tangga Notice/Caution/ Warning dalam pembelajaran. (2) Menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya, melalui media pembelajaran yang lain. (3) Menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, aktivitas
belajar meningkat, dan kemampuan membaca Notice/Caution/Warning juga meningkat. (4) Menggunakan hasil penelitian ini bagi guru bahasa Inggris lain. (5) Membuat kebijakan bagi sekolah dan mendorong guru-guru
lain untuk difasilitasi melakukan penelitian tindakan guna mencapai prestasi
sekolah yang optimal.
Metode
Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas atau classroom action research yang
dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Taggart dalam Suyanto (2001) menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian tindakan kelas ini
bertujuan untuk mengembangkan cara baru dan untuk memecahkan masalah yang
bersumber dari praktik pembelajaran di kelas, melalui siklus (Plan, Act,
Observe, dan Reflect).
Plan menjelaskan tentang tahap apa,
mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
Dalam tahap menyusun rancangan ini menentukan titik focus peristiwa yang perlu
mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, dan yang terjadi selama kegiatan
pembelajaran atau tindakan berlangsung.
Act adalah tahap pelaksanaan atau implementasi dari rancangan yang telah dibuat
dalam bentuk tindakan kelas. Tindakan ini harus sesuai dengan rancangan.
Observe adalah tahap pengamatan yang merupakan kegiatan atau tindakan yang dilakukan secara bersamaan
dengan tindakan pelaksanaan tadi. Artinya selain melakukan pelaksanaan tindakan
kelas juga disertai dengan pengamatan.
Reflect merupakan tahap mengulas kembali apa yang sudah dilakukan serta upaya
apa yang harus diperbaiki atau dilakukan selanjutnya.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Februari hingga Mei 2014 semester 2 tahun pelajaran 2013/ 2014 di SMP Negeri 1
Martapura.
Subyek Penelitian
Subyek
penelitian dalam penelitian ini adalah peserta didik Kelas VII C SMP Negeri 1 Martapura yang terdiri dari 9 orang peserta didik laki-laki,
dan 21 orang peserta didik perempuan.
Prosedur
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan dilakukan mulai minggu ketiga bulan Februari sampai minggu pertama bulan Mei 2014. Peneliti bertindak
sebagai pelaku tindakan dibantu oleh satu orang
kolaborator. Pada setiap langkah dalam siklus terdiri dari tahapan persiapan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data diolah dan dibahas secara
kuantitatif dan kualitatif untuk mendeskripsikan dan memakai media pembelajaran dengan teknik permainan Ular Tangga Notice/Caution/Warning.
Data, Intrumen, dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah guru,
peserta didik, dan hasil belajar. Jenis data yang digunakan adalah kualitatif yaitu data tentang aktivitas guru dan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran baik terhadap aktivitas
kelompok maupun individu dan kuantitatif yaitu data tentang hasil
belajar peserta didik setelah melakukan tatap muka atau setiap kali melakukan
pertemuan.
Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas guru dan
aktivitas peserta didik,
serta butir soal tes.
Teknik
pengumpulan data adalah observasi
(aktivitas peserta didik dan guru) yaitu melakukan pengamatan terhadap guru dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
dan tes dengan melakukan tes tertulis terhadap peserta didik sehingga
diperoleh data tentang hasil belajar peserta didik.
Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mengolah dan menyusun data. Data yang sudah terkumpul
dapat menghasilkan kesimpulan dan dapat dipertanggungjawabkan. Data yang telah
diperoleh merupakan gambaran dari hasil observasi dan hasil tes peserta didik.
Ada dua data yang diperoleh yaitu data kuantitatif dan kualitatif. Untuk
data kuantitatif berupa post-test
dianalisis dengan teknik persentase atau dituliskan dalam bentuk angka-angka,
sedangkan data kualitatif berupa hasil
observasi aktivitas guru maupun peserta didik dianalisis secara deskriptif. Data yang dianalisis
merupakan keaktifan dan pemahaman peserta didik dan peran guru dalam penerapan permainan Ular Tangga Notice/Caution/Warning.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Perencanaan Siklus 1
Pada tahap ini, beberapa persiapan telah dilakukan seperti
waktu pelaksanaan tindakan dan rancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), lembar observasi guru dan
peserta didik, kriteria keberhasilan, dan
butir soal tes. Siklus ini direncanakan dua kali pertemuan. Pertemuan
pertama adalah pembelajaran Bahasa
Inggris dengan menggunakan teknik permainan
Ular Tangga Notice/ Caution/Warning dalam keterampilan membaca Short Functional Text: Notice. Selanjutnya, untuk pertemuan kedua adalah peserta didik menjawab latihan-latihan yang berkaitan dengan
Notice/Caution/Warning.
Pelaksanaan Tindakan Siklus 1
Pelaksanaan tindakan dari
perencanaan selama dua kali pertemuan pada Siklus 1 sebagai berikut.
Pertemuan Pertama
Bagian pembukaan mencakup: Pra-KBM, menyiapkan alat peraga/media, mengecek kesiapan siswa
belajar baik secara fisik maupun psikologis dengan berdoa, menanyakan
pengalaman siswa dalam berbahasa Inggris, menjelaskan tujuan pembelajaran atau
kompetensi yang akan dicapai, menyampaikan garis besar cakupan materi dan
penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan siswa untuk menyelesaikan
latihan-latihan dan tugas dalam pembelajaran, dan membagi peserta didik menjadi kelompok
yang terdiri dari 4-5 anggota tim.
Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan inti mencakup:
1) Menggali pengetahuan awal peserta didik
melalui pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang disampaikan.
2)
Peserta didik diminta untuk membuat kelompok yang terdiri dari 4-5 orang.
Tiap kelompok mengelilingi 1 lembar permainan Ular Tangga.
3)
Menentukan urutan pemain pertama, kedua, atau pemain ketiga dengan
melakukan "Hompimpa".
4)
Setelah ditentukan, pemain pertama melempar dadu unuk menentukan banyaknya
langkah berdasarkan angka dadu yang muncul.
5)
Pemain yang lain menanyakan kepada pemain pertama arti dari tulisan Notice/ Caution/Warning tempat di mana
posisi pemain pertama berada dan juga ditanyakan di mana biasanya Notice/Caution/Warning dijumpai.
6) Jika pemain pertama tidak bisa
menjawab, maka dia harus menulis kesulitannya di buku catatan dan dianggap
sebagai kosakata baru baginya yang akan didiskusikan dan ditanyakan setelah
usai permainan.
7) Setelah pemain pertama telah
menjalankan gilirannya, maka dilanjutkan dengan pemain kedua untuk melakukan
hal yang sama dan dilanjutkan oleh pemain berikutnya.
8) Langkah pemain bisa menjadi cepat
karena berada di posisi anak tangga, namun bisa juga menjadi lambat karena
berada di posisi gambar ekor ular yang mengharuskan dia turun.
9) Permainan selesai jika salah seorang
pemain telah berada di angka terkhir (finish). Inti dari permainan ini bukan
mencari siapa yang kalah dan menang, melainkan memahami dan menambah kosakata
yang berkaitan dengan Notice/Caution/Warning yang terdapat
pada gambar Ular Tangga Notice/ Caution/ Warning yang tersedia.
10) Seusai permainan, para peserta didik dalam satu kelompok
mendiskusikan kosakata yang berkaitan dengan Notice/Caution/Warning yang telah mereka dapatkan.
11) Guru memberi evaluasi.
Bagian Penutup mencakup: bersama-sama dengan peserta didik dan/atau
sendiri membuat rangkuman/ simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap
kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
pembelajaran, menyampaikan
rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Pertemuan Kedua
Bagian pembukaan mencakup: Pra-KBM, menyiapkan alat peraga/media, mengecek kesiapan siswa
belajar baik secara fisik maupun psikologis dengan berdoa, menanyakan pengalaman
siswa dalam berbahasa Inggris, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi
yang akan dicapai, menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan
tentang kegiatan yang akan dilakukan siswa untuk menyelesaikan latihan-latihan
dan tugas dalam pembelajaran, dan membagi peserta didik menjadi kelompok yang terdiri dari
4-5 anggota tim.
Kemudian
dilanjutkan dengan meminta peserta didik menjawab latihan-latihan yang berkaitan dengan Notice/ Caution/ Warning.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan secara
bersama-sama di dalam pelaksanaan tindakan. Oleh karena itu, kolaborator dan
peneliti melakukan pengamatan selama proses belajar mengajar berlangsung.
Selama proses belajar mengajar berlangsung,
kolaborator mengamati kegiatan guru dan peserta didik dengan menggunakan lembar
observasi guru dan lembar
observasi aktivitas peserta didik. Pengamatan ini dilakukan untuk memantapkan atau meyakinkan apakah
pelaksanaan teknik ini sesuai dengan perencanaan.
Analisis and Refleksi Siklus 1
Dari hasil observasi guru dalam pelaksanaan pembelajaran dapat disimpulkan
bahwa:
1) Sebelum memulai pelajaran, guru mengecek
kesiapan siswa belajar baik secara fisik maupun psikologis dengan berdoa.
2) Guru
menjelaskan pentingnya materi yang akan dipelajari berikut kompetensi yang
harus dikuasai peserta didik.
3) Guru
menanyakan pengalaman siswa dalam berbahasa Inggris dan hal ini sudah sesuai dengan materi.
4) Dalam pembentukan kelompok, terlihat
pemakaian waktu yang cukup lama karena proses pemindahan meja dan kursi, dan
tampak peserta didik cenderung berkelompok dengan sesama jenis.
5) Di dalam menjelaskan aturan awal
permainan yaitu guru meminta peserta didik menentukan urutan pemain pertama,
kedua, atau pemain ketiga dengan melakukan "Hompimpa", guru terlihat menguasai dan peserta didik
terlihat antusias.
6) Guru
meminta pemain pertama melempar dadu unuk menentukan banyaknya langkah
berdasarkan angka dadu yang muncul,
guru sudah menjelaskan kepada seluruh peserta didik.
7) Guru
telah meminta pemain yang lain menanyakan kepada pemain pertama arti dari
tulisan Notice tempat di mana posisi
pemain pertama berada dan juga ditanyakan di mana biasanya Notice dijumpai, namun
guru kurang memantau peserta didik yang mengalami kesulitan di dalam kelompok,
sehingga bimbingan dan arahan belum sepenuhnya didapatkan seluruh peserta didik.
8) Guru
meminta peserta didik untuk mendiskusikan kosakata yang berkaitan dengan Notice yang telah mereka dapatkan.
9)
Guru
telah memberikan evaluasi tentang teks fungsional pendek, dan mengarahkan peserta didik mengambil
kesimpulan tentang makna dan tempat
dijumpainya Notice.
Dilihat dari data skor hasil evaluasi aktivitas
peserta didik dapat disimpulkan bahwa :
1) Para peserta didik mendengarkan apersepsi
yang disampaikan guru dan terlibat aktif dalam kelompok dengan mengelilingi
1 lembar permainan Ular Tangga.
2) Peserta didik mengelompok secara heterogen
sesuai dengan permintaan guru, memindahkan tempat duduk dan meja kurang
berjalan lancar dan memerlukan waktu lebih lama, tampaknya anak perempuan
enggan berkelompok dengan anak laki-laki.
3) Peserta
didik menentukan urutan pemain pertama, kedua, atau pemain ketiga dengan
melakukan "Hompimpa" secara aktif.
4) Ketika peserta didik berada dalam
kelompok, ada seorang peserta didik yang kurang aktif, kelihatan belum fokus
pada pembelajaran.
5) Pemain yang lain menanyakan kepada pemain pertama arti dari tulisan Notice walaupun masih terbata-bata dan dan
juga ditanyakan di mana biasanya Notice
dijumpai.
6) Sebagian besar peserta didik sudah bertanya jawab dalam kelompok. Dan peserta didik telah menjalankan gilirannya.
7) Sebagian besar peserta didik sudah
memotivasi teman untuk memberikan pendapat atau ide, walaupun ada beberapa
peserta didik yang kurang aktif mendengarkan ketika temannya memberikan
pendapat.
8) Ketika mendiskusikan kesulitan kelompok, sebagian besar peserta didik memperhatikan informasi/penjelasan/ pendapat yang disampaikan guru atau temannya, ada beberapa peserta didik
yang kurang memperhatikan.
9) Dalam mengerjakan soal-soal evaluasi,
seluruh peserta didik mengerjakan dengan tertib.
Dilihat dari
hasil tes tertulis dengan jumlah peserta didik 30 orang
memperoleh nilai rata-rata kelas 75
dan ketuntasan klasikal 43,33%. Walaupun nilai rata-rata kelas sudah mencapai indikator kinerja (75), tapi guru /
peneliti belum puas, karena 17 dari 30 peserta didik
masih memperoleh nilai dibawah 75.
Penyebab yang dapat disimpulan sementara adalah:
1) Belum mantapnya penguasaan mereka tentang
pemahaman teks fungsional pendek (Notice).
2) Belum banyak memahami makna yang berkaitan dengan teks.
3) Kurangnya penguasaan pada tempat-tempat di mana Notice sering dijumpai.
4) Banyaknya
Notice yang masih membingungkan
peserta didik karena peserta didik belum terbiasa membacanya.
Disamping meneliti hasil data peserta didik, peneliti beserta kolaborator juga
menganalisis kembali soal evaluasi. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan peserta
didik tentang kosakata yang berkaitan dengan teks fungsional pendek (Notice) belum memadai.
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris pertemuan berikutnya, peneliti mengulang
penyampaian materi tentang teks fungsional pendek (Notice/Caution/Warning) dan kosakata yang terkait secara
klasikal.
Perencanaan Siklus 2
Rancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) direvisi dengan melakukan
perbaikan dalam langkah pembelajaran, penggunaan lembar permainan Ular
Tangga yang lain dan pengembangan
butir soal tes. Siklus ini direncanakan dua kali pertemuan. Pertemuan
pertama adalah pembelajaran Bahasa
Inggris dengan menggunakan teknik permainan
Ular Tangga Notice/Caution/Warning
dalam skill membaca Short Functional Text: Caution/ Warning.
Selanjutnya, untuk pertemuan kedua adalah meminta peserta didik menjawab Task-task yang
berkaitan dengan Caution/ Warning.
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Siklus 2
Tindakan dilaksanakan
dua kali pertemuan sekaligus pengamatan seperti pada langkah Siklus 1.
Analisis and Refleksi Siklus 2
Dari hasil observasi guru dalam pelaksanaan pembelajaran dapat disimpulkan
bahwa:
1) Sebelum memulai pelajaran, guru mengecek
kesiapan siswa belajar baik secara fisik maupun psikologis dengan berdoa.
2) Guru
menjelaskan pentingnya materi yang akan dipelajari berikut kompetensi yang
harus dikuasai peserta didik.
3) Guru
menanyakan pengalaman siswa dalam berbahasa Inggris dan hal ini sudah sesuai dengan materi.
4) Dalam pembentukan kelompok, pemakaian
waktu tidaklah lama dan
tampak peserta didik berkelompok secara membaur.
5) Guru
meminta peserta didik menentukan urutan pemain pertama, kedua, atau pemain
ketiga dengan melakukan "Hompimpa", guru terlihat menguasai dan peserta didik terlihat antusias.
6) Guru sudah menjelaskan kepada seluruh
peserta didik aturan permainannya.
7) Guru
telah meminta pemain yang lain menanyakan kepada pemain pertama arti dari
tulisan Caution/Warning di mana
posisi pemain pertama berada dan juga ditanyakan di mana biasanya Caution/Warning dijumpai, dan guru telah memantau peserta didik yang mengalami kesulitan
di dalam kelompok, sehingga bimbingan dan arahan didapatkan seluruh peserta
didik.
8) Guru
meminta peserta didik untuk mendiskusikan kosakata yang berkaitan dengan Caution/Warning yang telah mereka
dapatkan, meskipun masih ada peserta didik yang kesulitan memahami makna Caution/Warning.
9) Guru telah memberikan evaluasi tentang Caution/Warning, dan mengarahkan peserta didik mengambil
kesimpulan.
Dilihat dari data skor hasil evaluasi aktivitas
peserta didik dapat disimpulkan bahwa :
1) Para peserta didik terlibat aktif
dalam kelompok dengan mengelilingi 1 lembar permainan Ular Tangga.
2) Peserta didik mengelompok secara heterogen
sesuai dengan permintaan guru, dan berkelompok secara membaur.
3) Secara
aktif peserta didik menentukan urutan pemain pertama, kedua, atau pemain ketiga
dengan melakukan "Hompimpa".
4) Pemain yang lain menanyakan kepada pemain pertama arti dari tulisan Caution/Warning
dan di mana biasanya Caution/Warning dijumpai.
5) Sebagian besar peserta didik sudah bertanya jawab dalam kelompok. Dan peserta didik telah menjalankan gilirannya.
6) Ketika mendiskusikan kesulitan kelompok, sebagian besar peserta didik memperhatikan
informasi/penjelasan/pendapat yang disampaikan guru atau temannya.
7) Seluruh peserta didik mengerjakan soal-soal
evaluasi dengan tertib.
Dari hasil nilai tes dapat disimpulkan bahwa :
1) Yang memperoleh nilai 70 : 6 orang
2) Yang memperoleh nilai 80 : 20 orang
3) Yang memperoleh nilai 90 : 3 orang
4) Yang memperoleh nilai 100 : 1 orang
Jumlah peserta didik yang hadir 30 orang, dengan nilai rata-rata kelas 79,67. Nilai rata-rata kelas sudah mencapai di
atas indikator kinerja (75), dan secara klasikal 80% peserta didik mendapat nilai di atas nilai KKM (75).
Kesimpulan yang diambil sebagai berikut :
1. Peserta didik sudah menguasai pemahaman
tentang teks fungsional pendek (Notice/Caution/Warning).
2. Peserta didik sudah banyak memahami
kosakata yang berkaitan dengan teks karena arahan guru dalam mendiskusikan
kosakata tersebut semakin baik.
3. Waktu pengerjaan soal evaluasi memadai.
4. Walaupun di antara peserta
didik tersebut masih ada yang memiliki keterampilan dasar berbahasa Inggris
yang rendah, ada terjadi peningkatan pada hasil evaluasi belajar peserta didik.
Deskripsi dan Analisis Siklus 1 dan 2
Pembelajaran dengan teknik
permainan Ular Tangga Notice/Caution/Warning dapat meningkatkan aktivitas guru,
aktivitas peserta didik, dan hasil belajar peserta didik.

Gambar
1: Aktivitas
Guru dalam Proses Pembelajaran pada tiap-tiap aspek dalam 2 siklus
Berdasarkan data pada Gambar 1 terlihat bahwa aktivitas guru dalam proses pembelajaran
di kelas terjadi peningkatan dan
terlaksana dengan baik sesuai dengan teknik
permainan yang diterapkan. Peningkatan dari 91,75 % menjadi 98,33 % atau rerata sebesar 95,04% dari keseluruhan aspek yang diamati.

Gambar
2:
Persentase Rata-rata Aktivitas Peserta didik dalam Pembelajaran Tiap Siklus
Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa persentase peserta didik yang aktif untuk
ketujuh aspek yang diobservasi rata-rata mengalami peningkatan dari siklus I
dan siklus II, hal ini menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas peserta didik
selama guru mengimplementasikan pembelajaran di kelas, dengan perolehan angka
dalam persen mulai dari 95,50 % menjadi 99,11%. Dengan reratanya 97,30.
No
|
Nama Peserta Didik
|
Pembelajaran Siklus I
|
Pembelajaran Siklus II
|
||
Skor
|
Persen
|
Skor
|
Persen
|
||
1
|
ATI
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
2
|
AZ
|
80
|
80%
|
70
|
70%
|
3
|
AM
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
4
|
DNR
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
5
|
DHC
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
6
|
HUR
|
80
|
80%
|
90
|
90%
|
7
|
H
|
90
|
90%
|
80
|
80%
|
8
|
HA
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
9
|
JE
|
80
|
80%
|
80
|
80%
|
10
|
MAH
|
80
|
80%
|
70
|
70%
|
11
|
MA
|
70
|
70%
|
90
|
90%
|
12
|
MHZ
|
70
|
70%
|
90
|
90%
|
13
|
MHL
|
90
|
90%
|
80
|
80%
|
14
|
MIN
|
60
|
60%
|
80
|
80%
|
15
|
MRS
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
16
|
MR
|
80
|
80%
|
80
|
80%
|
17
|
MS
|
80
|
80%
|
80
|
80%
|
18
|
NK
|
70
|
70%
|
70
|
70%
|
19
|
NKA
|
80
|
80%
|
80
|
80%
|
20
|
NH
|
70
|
70%
|
70
|
70%
|
21
|
NL
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
22
|
NS
|
80
|
80%
|
80
|
80%
|
23
|
OE
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
24
|
PH
|
70
|
70%
|
70
|
70%
|
25
|
R
|
80
|
80%
|
80
|
80%
|
26
|
RU
|
80
|
80%
|
80
|
80%
|
27
|
RA
|
70
|
70%
|
100
|
100%
|
28
|
VLM
|
80
|
80%
|
70
|
70%
|
29
|
YP
|
60
|
60%
|
80
|
80%
|
30
|
MSH
|
70
|
70%
|
80
|
80%
|
Rata-rata Kelas
|
75
|
79,67
|
|||
Ketuntasan Klasikal
|
43,33%
|
80%
|
Tabel 1: Data Hasil Belajar

Gambar 3 : Persentase Rata-rata Nilai Peserta didik dalam 2
siklus
Berdasarkan Gambar 3 dapat disimpul- kan bahwa tingkat ketercapaian hasil belajar peserta
didik mengalami peningkatan dengan perolehan rerata kelas mulai dari 75 pada siklus I dan rerata
kelas 79,67 pada Siklus II dengan rerata kelas Siklus I dan II adalah 77,37 dan dalam persentase juga ada peningkatan dari 43,33%
pada siklus 1 dan 80% pada siklus 2, sehingga rerata
persen adalah 61,67%.
Dari
data yang terhimpun diketahui ada peningkatan kualitas tindakan dari pertemuan
pertama sampai pertemuan keempat, baik dari segi aktivitas guru, aktivitas
belajar siswa dan hasil belajar siswa. Peningkatan yang terjadi merupakan hasil
dari refleksi dan tindakan yang dilakukan di setiap pertemuan.
1. Aktivitas Guru
Data
yang diolah pada setiap pertemuan menunjukkan adanya peningkatan yang terjadi
pada setiap kali pertemuan dalam pelaksanaan tindakan. Dari data tersebut terlihat peningkatan kualitas aktivitas guru dalam
setiap pertemuan. Pada siklus pertama,
guru melakukan pembelajaran dengan menggunakan teknik permainan Ular Tangga Notice/Caution/ Warning terlihat
kurang optimal dengan pencapaian persentase 91,75. Setelah dilakukan refleksi,
aktivitas guru pada siklus kedua mengalami peningkatan persentase sebesar 6,58
menjadi 98,33. Hal tersebut dikarenakan guru sudah lebih
berpengalaman dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga aktivitas yang
dilakukan guru dalam pembelajaran menjadi lebih optimal.
Hal
ini sejalan dengan pendapat Massopa (2008) belajar merupakan proses mental
dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan. Belajar berarti mengalami,
baik mengalami secara langsung maupun tidak langsung (melalui media). Penggunaan media pembelajaran (Ular Tangga Notice/Caution/ Warning) ini menjadikan
aktivitas pembelajaran benar-benar melibatkan aktivitas pikiran dan perasaan.
Lebih
lanjut Gagne (2004) juga melihat pentingnya proses belajar siswa secara aktif
dalam pengajaran. Jadi, yang penting dalam mengajar bukan upaya guru
menyampaikan bahan, tetapi bagaimana siswa dapat mempelajari bahan sesuai
tujuan. Hal ini berarti bahwa upaya guru merupakan serangkaian peristiwa
terjadi yang dapat mempengaruhi siswa belajar.
2. Aktivitas
Peserta Didik
Data
yang diperoleh pada siklus pertama aktivitas siswa mencapai persentase 95,50.
Pada siklus pertama ini, masih ada sebagian siswa yang peran sertanya belum
maksimal dalam proses pembelajaran, kurang aktif dalam berkelompok, serta masih
ada sebagian siswa yang kurang aktif dalam melakukan tanya-jawab tentang arti Notice dan di mana biasanya Notice tersebut dijumpai dan juga dalam
mendiskusikan kosakata yang sulit terkait Notice
yang dipelajari. Hal tersebut dikarenakan siswa masih belum banyak memahami Notice yang dipelajari.
Kemudian pada siklus kedua aktivitas
siswa mengalami peningkatan persentase sebesar 3,61% dengan pencapaian
persentase 99,11%. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan aktivitas yang
dilakukan oleh siswa selama dalam pembelajaran dibandingkan dengan siklus
pertama, karena siswa sudah mempunyai pengalaman dalam pembelajaran yang
menggunakan teknik permainan ular tangga ini.
Berdasarkan
uraian di atas disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa adalah rangkaian
kegiatan yang dilakukan siswa dalam mengikuti pembelajaran sehingga menimbulkan
perubahan perilaku belajar pada diri siswa, misalnya dari tidak tahu menjadi
tahu atau dari tidak mampu melakukan kegiatan menjadi mampu melakukan kegiatan.
Guru perlu mencermati dan menganalisis bagaimana keterlibatan siswa dalam
pengorganisasian pengetahuan, apakah mereka aktif atau pasif. Semakin aktif dan kreatif guru dalam
memanajemeni proses belajar mengajar, semakin
meningkatkan pula keaktifan siswa dalam belajar (Junaidi, 2010).
3. Hasil Belajar
Hasil belajar siswa diukur
berdasarkan hasil tes akhir siklus, Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan yang
telah dilakukan, hasil belajar siswa pada siklus I
mencapai persentasi ketuntasan secara klasikal 43,33% berdasarkan KKM ≥ 75,
sedangkan secara individual siswa yang dinyatakan tuntas ada 13 orang dan yang
dinyatakan belum tuntas ada 17 orang. Kemudian setelah dilakukan refleksi
terhadap aktivitas guru dan aktivitas siswa, maka hasil belajar siswa pada siklus
II mengalami peningkatan sebesar 36,67% dengan
pencapaian 80,00% secara klasikal. Dan
secara individual ada 24 siswa yang dinyatakan tuntas dan 6 siswa yang belum
tuntas dan mendapat bimbingan secara individual.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam
pencapaian hasil belajar yaitu : faktor dari dalam diri meliputi kesehatan, intelegensi/
bakat atau kecerdasan, minat dan motivasi serta cara belajar.dan faktor dari lingkungan meliputi keluarga, sekolah,
masyarakat, dan lingkungan sekitar.
Dari sekian banyak faktor yang harus
diperhatikan, tentu tidak ada situasi 100% yang dapat dilakukan secara
keseluruhan dan sempurna. Tetapi berusaha untuk memenuhinya sesempurna mungkin
bukanlah faktor yang mustahil untuk dilakukan. (Alim, 2009)
Menurut
Massopa, 2008 belajar adalah proses dimana tingkah laku
(dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan-latihan.
Bentuk perubahan dari hasil belajar meliputi tiga aspek, yaitu: aspek kognitif
meliputi perubahan-perubahan dalam segi penguasaan pengetahuan dan perkembangan
keterampilan/ kemampuan yang
diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut, aspek efektif meliputi
perubahan-perubahan dalam segi sikap mental, perasaan dan kesadaran, aspek
psikomotor mencakup perubahan-perubahan pada segi tindakan motorik. Prestasi belajar siswa yang
diperoleh dalam proses belajar-mengajar di sekolah dapat dilihat dan diketahui
dari nilai hasil evaluasi. Nilai tersebut merupakan
indikator yang dapat dijadikan acuan berhasil tidaknya siswa belajar serta
dijadikan acuan berhasil tidaknya proses belajar mengajar di kelas.
Simpulan
dan Saran
Berdasarkan refleksi hasil
tindakan Siklus I dan Siklus II pada penelitian ini, maka dapat disimpulkan
bahwa: (1) Permainan
Ular Tangga Notice/Caution/Warning dapat meningkatkan kualitas aktivitas guru dalam melaksanakan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran yang telah dirancang dengan baik sebelumnya. Aktivitas guru pada siklus
I mencapai persentase 91,75 dan pada siklus II mencapai persentase 98,33. (2) Aktivitas siswa mengalami
peningkatan berdasarkan 7 aspek pengamatan yang telah ditetapkan. Pada siklus I
aktivitas siswa persentase 95,50 dan pada siklus II mencapai persentase 99,11. (3) Permainan
Ular Tangga Notice/Caution/Warning dinyatakan berhasil dan meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam proses belajar
bahasa Inggris bagi
peserta didik Kelas VII C SMP Negeri 1 Martapura Kabupaten Banjar. Hal ini ditunjukkan oleh tercapainya indikator
keberhasilan penelitian, ketuntasan
siswa secara klasikal pada siklus I mencapai 43,33% dan pada siklus II mencapai 80,00% berdasarkan KKM yang telah ditentukan.
Berdasarkan hasil penelitian ini
beberapa saran disampaikan sebagai berikut : (1) Bagi siswa disarankan untuk selalu
termotivasi dalam belajar, selalu melatih kerjasama dalam menyelesaikan masalah
bersama dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. (2) Bagi guru Bahasa Inggris dapat menggunakan media pembelajaran Ular
Tangga Notice/Caution/ Warning ini sebagai salah satu alternatif media pembelajaran dalam melaksanakan pembelajaran Bahasa Inggris khususnya pada kompetensi dasar teks fungsional pendek Notice/Caution/Warning, karena permainan ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar
serta lebih memberikan kesan, karena belajar dilakukan sambil bermain, sehingga
siswa tidak jenuh dan selalu termotivasi untuk belajar. (3) Bagi kepala sekolah
disarankan agar memberikan bimbingan serta memotivasi guru-guru untuk
menggunakan berbagai macam media pembelajaran, salah
satunya Permainan Ular Tangga Notice/Caution/Warning karena dapat meningkatkan hasil belajar, lebih memberikan kesan,
dan membuat siswa selalu termotivasi untuk belajar, serta menjadi pertimbangan
masukan dalam membina guru untuk melakukan penelitian serta kegiatan supervisi
dalam rangka peningkatan upaya mutu pembelajaran di kelas dan mutu pendidikan di sekolah.
Daftar
Pustaka
Alim, Muhammad Baitul. 2009. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi
Belajar Anak. Diakses 19 November 2011,
dari http://www.psikologizone.com/
faktor-yang-mempengaruhi-prestasi-belajar-anak/06511161.
Depertemen Pendidikan Nasional. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa
Inggris. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.
Gagne, Robert M. 2004. The Condition of Learning, Second Edition. New York: Halt Sunders.
International Edition. Jurnal Pendidikan Widya
Tama, 2005.
Junaidi, Wawan. 2010. Cara Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa. Diakses
tanggal 19 November 2010, dari http://wawan-junaidi.blogspot.com/ 2010/07/aktivitas-belajar-siswa.html
Kemdikbud.
2013. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:
Kemdikbud.
Massopa. 2008. Pengertian Hakikat Belajar. Diakses tanggal 6 Agustus 2008, dari
http://massopa.wordpress.com/2008 /hakikat-strategi-belajarmengajar
Suyanto,
K.K.E. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: UM Press.
Wikipedia. 2014. Ensiklopedia Ular Tangga. Diakses
tanggal 20 Juni 2014 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ular_tangga.
![]() |
![]() |
|||
![]() |
||||
![]() |
||||
Profil
Penulis
Penulis adalah guru mata pelajaran Bahasa Inggris di
SMP Negeri 1 Martapura. Lahir di Banjarmasin pada Bulan Februari 1973.
Menyelesaikan Sarjana (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris,
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarmasin pada tahun 1998. Pada tahun 2002 sampai 2004 mendapat kesempatan
studi S-2 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang dan memperoleh
gelar M.Pd.
Penulis memiliki pengalaman mengajar selama 16 tahun, dan juga melakukan
beberapa penelitian yang terkait dengan pembelajaran Bahasa Inggris di SMP.
Penulis pernah menjadi Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris
SMP/MTs Kabupaten Banjar Periode 2012-2014.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE
LEARNING DENGAN TEKNIK STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) PADA SISWA
KELAS VII SEMESTER 2 SMP NEGERI 1 MARTAPURA
TAHUN PELAJARAN 2010/2011
A.
Latar Belakang Masalah
Dari hasil pengamatan pada
nilai ulangan semester gasal Kelas VII H, bahasa Inggris merupakan mata
pelajaran yang sulit bila dibanding dengan mata pelajaran yang lain, yang mana
nilai pencapaian sebagian besar siswa kurang dari KKM yaitu 62. Oleh sebab itu, peneliti beranggapan proses
dan hasil belajar bahasa Inggris masih perlu ditingkatkan. Untuk meningkatkan
proses dan hasil belajar terutama melibatkan aktivitas siswa dalam
pembelajaran.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
pengajaran Bahasa Inggris pada tingkat SMP/MTs mengacu pada empat
keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan
menulis. Pengajaran keempat keterampilan
berbahasa tersebut dititikberatkan pada pengajaran jenis teks (genre) yakni
teks transaksional/interpersonal, teks fungsional pendek dan teks monolog
(recount, naratif, recount, prosedur, dan report.)
Membaca adalah salah satu
kompetensi komunikatif yang harus dikuasai oleh siswa SMP/MTs. Sebagai satu
dari keterampilan berbahasa yang seharusnya dikembangkan dalam kegiatan
pembelajaran, Membaca dianggap sebagai keterampilan berbahasa yang sulit bagi
siswa. Di lain pihak, Membaca termasuk keterampilan berbahasa yang diujikan
dalam Ujian Nasional.
Dalam Modul Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris (Depdiknas,
2005) teks prosedur adalah jenis
teks yang banyak dijumpai di sekitar kita, dalam “manual”, resep-resep masakan,
aturan-aturan, dan berbagai teks “how to” yang lain. Teks prosedur diajarkan di
Kelas VII semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011.
Dalam Model-model Pembelajaran, terdapat banyak teknik yang bisa
diterapkan oleh guru bersama-sama dengan siswa. Students Team-Achievement
Divisions (STAD) merupakan teknik yang bisa diterapkan agar kegiatan
pembelajaran menjadi semakin menarik. Dengan adanya pembagian kelompok
berdasarkan prestasi, gender, dan suku diharapkan siswa menjadi lebih
termotivasi dan dapat bekerja sama di dalam kelompok. (Slavin, 1994 dalam
Coffey, 2011) Dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan diharapkan pembelajaran
dapat menimbulkan rasa senang dan antusias siswa dalam belajar.
Penelitian ini menjadi sangat
penting dilakukan karena peneliti ingin mencoba menerapkan teknik “Student
Teams-Achievement Divisions” dalam pengelolaan proses pembelajaran agar Cooperative
Learning dapat dilaksanakan, dalam hal ini pembelajaran difokuskan pada
keterampilan berbahasa Membaca teks Prosedur; Pemahaman Cara Membuat
Makanan/Minuman dan Kerajinan Tangan. Dengan meningkatnya pemahaman siswa
terhadap teks Prosedur, diharapkan hasil
belajar bahasa Inggris siswa pada umumnya juga dapat meningkat.
B.
Rumusan Masalah
- “Apakah dengan menggunakan teknik Student
Teams-Achievement Divisions aktivitas siswa dalam proses belajar bahasa
Inggris Kelas VII H SMP Negeri 1 Martapura dapat meningkat” ?
- “Apakah
dengan menggunakan teknik Student Teams-Achievement Divisions kinerja
siswa dalam proses belajar bahasa Inggris Kelas VII H SMP Negeri 1
Martapura dapat meningkat” ?
- “Apakah
dengan menggunakan teknik Student Teams-Achievement Divisions hasil
belajar siswa dalam proses belajar bahasa Inggris Kelas VII H SMP Negeri 1
Martapura dapat meningkat” ?
C.
Rencana Pemecahan Masalah
Berdasarkan
latar belakang permasalahan tentang rendahnya hasil belajar bahasa Inggris
Kelas VII H, diupayakan pemecahan masalah yaitu penggunaan teknik Student
Teams-Achievement Divisions dalam proses pembelajaran Cooperative Learning
untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris.
D.
Tujuan Penelitian
- Meningkatkan
aktivitas siswa dalam proses belajar bahasa Inggris melalui teknik Student
Teams-Achievement Divisions.
- Meningkatkan
kinerja siswa dalam proses belajar bahasa Inggris melaui teknik Student
Teams-Achievement Divisions.
- Meningkatkan
hasil belajar bahasa Inggris siswa melaui teknik Student Teams-Achievement
Divisions.
E.
Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis :
- Mendapatkan
teori baru tentang hasil belajar bahasa Inggris yang dapat ditingkatkan
melalui teknik Student Teams-Achievement Divisions dalam pembelajaran.
- Sebagai
dasar untuk penelitian selanjutnya, melalui teknik pembelajaran yang lain.
Manfaat Praktis :
- Manfaat
bagi siswa : Pembelajaran menyenangkan, aktivitas belajar meningkat, dan
hasil belajar juga meningkat.
- Manfaat
bagi guru : Hasil penelitian ini dapat digunakan guru bahasa Inggris lain
untuk pembelajaran bahasa Inggris.
- Manfaat
bagi sekolah : sekolah dapat membuat kebijakan dan mendorong guru-guru
lain untuk difasilitasi melakukan penelitian tindakan guna mencapai
prestasi sekolah yang optimal.
F. KAJIAN TEORI
1. PEMBELAJARAN BAHASA
INGGRIS
Bahasa Inggris merupakan alat untuk
berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan
mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh
adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks
lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa,
yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan inilah
yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan
bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk
mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu
berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi
tertentu. Pembelajaran keempat keterampilan berbahasa tersebut
dititikberatkan pada pengajaran jenis teks (genre) yakni teks
transaksional/interpersonal, teks fungsional dan teks monolog (recount,
naratif, recount, prosedur, dan report.) (KTSP, 2006)
Lebih lanjut, tingkat literasi mencakup performative,
functional, informational, dan epistemic.
Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan,
dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat functional,
orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Pada tingkat informational,
orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada
tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa
sasaran (Wells,1987, dalam KTSP, 2006).
Pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs
ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni
berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran
yang di-UN-kan, sehingga diharapkan hasil belajar bahasa Inggris siswa dapat
menunjang persiapan menghadapi Ujian Nasional.
Pengajaran Membaca menurut KTSP di dalam Standar
Kompetensi untuk Kelas VII semester 2 adalah Memahami makna dalam teks tertulis
fungsional dan monolog pendek sangat sederhana yang berbentuk descriptive dan procedure untuk berinteraksi dengan lingkungan
terdekat. Dan dijabarkan ke dalam
Kompetensi Dasar yaitu Memahami
makna yang terdapat dalam monolog sangat sederhana secara akurat, lancar dan
berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat dalam teks berbentuk descriptive dan procedure.
Teks prosedur diajarkan di Kelas VII semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011. Dalam Modul
Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Inggris (Depdiknas, 2005) teks prosedur adalah jenis teks yang banyak
dijumpai di sekitar kita, dalam “manual”, resep-resep masakan, aturan-aturan,
dan berbagai teks “how to” yang lain.
2.
COOPERATIVE LEARNING
Pendekatan Cooperative
Learning dipandang sebagai salah satu strategi belajar mengajar, Ialah suatu
pendekatan yang dilakukan guru untuk mengapresiasikan materi pembelajaran untuk
kegiatan belajar mengajar, dengan sasaran dimana siswa di dalam kelas diarahkan
untuk belajar dalam suatu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok.
Mereka bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas
tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan pula
oleh guru. (Coffey, 2011)
Syaiful Bahri (2002:63)
memberikan pengertian kerja kelompok sebagai kegiatan sekelompok siswa yang
biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar.
Keberhasilan kerja kelompok ini menuntut kegiatan belajar yang kooperatif dari
beberapa individu tersebut. Pendekatan ini digunakan dengan tujuan agar siswa
mampu dan menjadi kebiasaan belajar bersama dan dengan teman yang lain. Untuk
pendekatan Cooperative Learning ini penulis memilih teknik dalam pembelajaran
adalah teknik Student Teams-Achievement Divisions.
3.
STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS
Student
Teams-Achievement Divisions merupakan pengelompokkan siswa berdasarkan
prestasi, gender, dan etnis. Dalam hal ini siswa yang lebih tahu akan
menjelaskan kepada teman-temannya di dalam kelompok. Diharapkan kerjasama siswa
di kelompok menjadi semakin baik, dan prestasi belajar pun dapat ditingkatkan.
Teknik “Student Teams-Achievement
Divisions” di kemukakan oleh Slavin, 1994. (Coffey, 2011) Langkah-langkah yang
ditempuh dalam teknik ini adalah :
- Guru
menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.
- Guru
membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen atau campuran
menurut prestasi, gender, dan suku.
- Guru menyajikan
materi pembelajaran.
- Guru
memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota
kelompok. Anggota yang lebih tahu menjelaskan kepada anggota lainnya
sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
- Guru
memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis,
siswa tidak boleh saling membantu.
- Guru
memberi evaluasi.
- Guru
bersama-sama siswa membuat kesimpulan.
G.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan teori di atas,
maka hipotesis pada penelitian ini adalah jika pembelajaran menggunakan
pendekatan Cooperative Learning dengan teknik Student Teams-Achievement
Divisions, maka aktivitas belajar siswa, kinerja siswa dan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran bahasa Inggris meningkat.
H.
Metode Penelitian
Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kaji tindak latar
kelas atau classroom action research yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc.
Taggart (1993) yaitu melalui siklus (Plan, Act, Observe, dan Reflect).



Action/Observation



Reflective
Action/Observation



Reflective
Action/Observation
Spiral Penelitian Tindakkan Kelas
(Adaptasi Hopkin, 1993 dalam Widya Tama, 2005)
I.
Setting
- Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Maret dan
April semester 2 tahun pelajaran 2010/2011, dengan alasan adanya kegiatan
Try-Out dan Ujian Sekolah/Nasional bagi siswa Kelas IX, maka proses belajar
mengajar menyesuaikan dengan kegiatan-kegiatan tersebut.
- Tempat Penelitian
Penelitian tindakan ini dilakukan di SMP
Negeri 1 Martapura Kelas VII H Semester
2 tahun pelajaran 2010/2011. Pihak sekolah menyambut dengan baik dengan adanya
penelitian ini, dan berkolaborasi dengan guru sejenis.
- Subjek Penelitian
Subyek
penelitian tindakan ini adalah siswa kelas VII H pada SMP Negeri 1 Martapura
berjumlah 30 orang, masing-masing terdiri 14 orang siswa laki-laki, dan 16
orang siswa perempuan.
J.
Prosedur Penelitian
Merujuk pada
metode di atas maka Penelitian Tindakkan Kelas (PTK) ini akan dilaksanakan
dalam 2 siklus dan dilakukan mulai minggu ke-2 bulan Maret sampai minggu ke-1
bulan April tahun 2011. Peneliti bertindak sebagai pelaku tindakan. Siklus 1
dengan materi pembelajaran “Procedure Text: How to Make Food/Beverage”, dan Siklus
2 “Procedure Text: How to Make Handicrafts”.
Pada setiap
langkah dalam siklus terdiri dari tahapan persiapan, pelaksanaan tindakan,
observasi, dan refleksi. Data diolah dan dibahas secara kuantitatif dan
kualitatif untuk mendeskripsikan dan memakai pembelajaran yang berorientasi
pada pendekatan Cooperative Learning dengan teknik Student Teams-Achievement
Divisions.
Pada saat
melaksanakan tindakan, peneliti dibantu oleh satu orang kolaborator yaitu Gusti
Wildayani, S. Pd (Guru bahasa Inggris).
1. Tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas
1. Tahap Persiapan
a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
dengan berpedoman pada Silabus Bahasa Inggris Kelas VII dan kegiatan inti yang
berorientasi pada pendekatan cooperative learning dengan teknik Student
Teams-Achievement Divisions. Aktivitas
yang akan terlaksana meliputi; aktivitas siswa dalam pembelajaran dan kinerja
siswa dalam pembelajaran.
b. Menyusun intrumen observasi aktivitas
siswa dan kinerja siswa dalam pembelajaran secara terstruktur dan tertutup.
c. Menyusun instrumen tugas mandiri setiap
akhir satuan pembelajaran.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan
tindakan yang akan dilakukan meliputi :
a. Pembukaan.
b. Kegiatan Inti.
c. Penutup.
Bagian
pembukaan mencakup: Pra KBM, menyiapkan alat peraga/media, mengucapkan salam,
mengabsen siswa, menyampaikan appersepsi dan menyampaikan tujuan yang akan
dicapai.
Bagian inti
mencakup: Menggali pengetahuan awal siswa melalui pertanyaan-pertanyaan seputar
materi yang disampaikan, membentuk kelompok secara heterogen, menjelaskan tugas
kelompok, menyajikan materi pembelajaran, memberi tugas kepada kelompok untuk
dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang lebih tahu menjelaskan
kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti,
memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis, siswa
tidak boleh saling membantu.
Bagian
Penutup mencakup: Membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dari teks yang
telah dipelajari, memberi kesempatan pada siswa untuk merefleksikan proses
pembelajaran, serta mengadakan evaluasi (dalam bentuk tugas mandiri), mengumumkan jawaban yang benar dari
soal evaluasi.
3. Tahap Observasi :
Dilakukan
dalam upaya pengumpulan data yang dilakukan bersamaan dengan proses
pembelajaran oleh pelaku tindakan (peneliti dan observasi). metode observasi
menggunakan desain observasi terstruktur
dan tertutup,meliputi: aktivitas siswa dalam pembelajaran dan hasil tes
belajarnya, serta kinerja siswa.
4. Tahap Analisis dan Refleksi:
Dilakukan
setelah data terkumpul, baik data kuantitatif maupun data kualitatif, yang
diperoleh dengan jalan mendeskripsikan, menggambarkan, dan memaknai data.
Prosedur analisisnya meliputi: reduksi data; tabulasi data; penafsiran data;
serta penarikan kesimpulan. Pelaksanaan refleksi dilakukan oleh pelaku
tindakan, kolaborator, dan siswa secara bersama-sama. Hasil refleksi dibuat
sebagai bahan/pedoman untuk persiapan pelaksanaan pembelajaran berikutnya.
5. Tahap Perencanaan Ulang (Re-plan)
Dilakukan setelah diperoleh hasil refleksi, dan
dilaksanakan guna penyusunan rencana pelajaran untuk diimplementasikan pada
pembelajaran siklus berikutnya.
K.
Faktor yang Diteliti
1. Aktivitas siswa dalam proses belajar
bahasa Inggris melalui teknik Student Teams-Achievement Divisions.
2. Kinerja siswa dalam proses belajar bahasa
Inggris melaui teknik Student Teams-Achievement Divisions.
3. Hasil belajar bahasa Inggris siswa melaui
teknik Student Teams-Achievement Divisions.
L.
Cara Penggalian Data
- Teknik Pengumpulan Data
a) Tes
b) Observasi (aktivitas siswa, dan kinerja
siswa)
c) Dokumen
- Alat Pengumpulan Data
b) Butir Soal tes
c) Lembar observasi
d) Buku nilai
- Analisis Data
- Menggunakan
analisis deskriptif
- Hasil
belajar dianalisis dengan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan
nilai tes antar siklus maupun dengan indikator kinerja.
- Observasi
maupun wawancara dengan analisis deskriptif berdasarkan hasil observasi
dan refleksi.
M.
Indikator Keberhasilan
Kondisi akhir yang diharapkan
dari penelitian tindakkan ini adalah meningkatnya aktivitas kegiatan siswa dan
meningkatnya kinerja siswa dalam kegiatan teknik “Students Team-Achievement
Division” serta meningkatnya rata-rata nilai ulangan harian yang diinginkan
adalah 70.
N.
Jadwal Penelitian
NO.
|
U R A I A N
|
M A R
E T
|
A P R
I L
|
|||||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
||
1.
|
Try-Out Provinsi
|
X
|
||||||||
2.
|
Pelaksanaan Siklus I
|
X
|
||||||||
3.
|
Try-Out Kabupaten
|
X
|
||||||||
4.
|
Ujian Sekolah (Praktik)
|
X
|
||||||||
5.
|
Ujian Sekolah (Tertulis)
|
X
|
||||||||
6.
|
Pelaksanaan Siklus II
|
X
|
Daftar Pustaka
Coffey, Heater, Cooperative Learning and Student
Teams-Achievement Divisions, http://www.learnnc.org/lp/pages/4653,
downloaded on February 21, 2011.
Depertemen Pendidikan Nasional, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa
Inggris, Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2005, Jakarta
Gagne Robert M, (Dalam Widya Tama, Jurnal
Pendidikan 2005) The Condition of Learning, Scond Edition, New York: Halt
Sunders. International Edition, 2004 Semarang
Hopkins, D. (dalam Widya Tama Jurnal, 2005). A
Teacher Guide to Classroom Research, Philadelpia. Open University
Press. 1992
Kemmis dan Mc. Taggart (dalam Widya Tama
Jurnal,) Classroom Actoin Research, 2005, Semarang.
Pusat Kurikulum, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMP, 2006, Jakarta.
Suyanto, K.K.E. 2001. Penelitian Tindakan Kelas.
Malang: UM Press.
Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengejar, Rineka Cipta, 2002, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar